Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah
Saif Ali Yasin
Pujangga yang terlahir dari rahim pergerakan.
Tiga Kambing, Seribu Tusuk Sate, dan Kebersamaan Santri Nurul Huda di Hari Raya Idul Adha
Aroma daging panggang menyebar harum di halaman Pondok Pesantren Nurul Huda, Porong, Sidoarjo, pada Rabu, 27 Mei 2026 / 10 Dzulhijjah 1447H. Bukan dari warung atau katering, melainkan dari tangan-tangan para santri sendiri yang dengan penuh semangat memotong, menusuk, dan mengipasi sate di atas bara arang menyala. Hari Raya Idul Adha tahun ini, tiga ekor kambing qurban menjadi media ibadah sekaligus perekat kebersamaan seluruh warga pesantren.
Setelah para santri selesai melakukan sholat Idul Adha bersama, santri langsung menuju makam Almaghfurlah KH. Syamsul Huda untuk melakukan pembacaan Tahlil bersama yang dipimpin langsung oleh perwakilan asatidz Pondok Pesantren Nurul Huda. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa ibadah qurban sejatinya bukan sekadar ritual menyembelih, melainkan sarana mendidik jiwa agar ikhlas, peduli, dan mampu merasakan nikmat kebersamaan dalam bingkai syariat.
Penyembelihan tiga ekor kambing dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB oleh juru sembelih yang berpengalaman, disaksikan oleh seluruh santri yang berbaris rapi mengelilingi area penyembelihan. Suasana penuh khidmat menyelimuti momen ini, beberapa santri tampak menundukkan kepala, menghayati makna pengorbanan yang tengah berlangsung di hadapan mereka.
Usai penyembelihan selesai, halaman pesantren berubah menjadi dapur bersama yang hidup. Para santri dibagi dalam beberapa kelompok: ada yang bertugas menguliti, ada yang memotong daging menjadi potongan kecil siap tusuk, ada pula yang menyiapkan bumbu dantungku arang. Canda tawa bercampur dengan keseriusan bekerja, pisau bergerak dengan cepat mengirisi daging serta tumpukan daging terus berkurang satu per satu menjadi ratusan tusukan sate yang siap dibakar.
Suasana semakin semarak ketika barisan tungku arang mulai dinyalakan. Asap tipis mengepul ke udara, membawa serta aroma khas daging kambing yang membuat perut semakin tak sabar. Para santri bergiliran mengambil posisi di depan panggangan, tangan kiri menggenggam kipas anyaman, tangan kanan memegang tusukan sate, memastikan setiap bagian terpanggang merata.
Momen mengipasi sate menjadi bagian yang paling ramai dan penuh gelak tawa. Para santri bergantian meniup dan mengipasi arang agar bara tetap menyala, sesekali berseru "mateng! mateng!" saat sate mulai kecokelatan sempurna. Tidak ada yang duduk berdiam diri sahaja semua terlibat, semua ambil bagian, dari santri senior hingga yang baru mondok beberapa bulan. Kebersamaan yang lahir dari sepotong daging kambing dan tungku arang yang menyala. Sate kambing pun tersaji panas, harum, dengan bumbu kacang yang disiapkan sejak pagi oleh tim dapur pesantren. Seluruh santri duduk bersama di halaman, menikmati hasil kerja tangan mereka sendiri dalam satu kebahagiaan yang sama.
Ketua Panitia Qurban, Ustadz Ahmad Saipurramadhan, S.Pd., mengungkapkan bahwa keputusan untuk memasak dan menyantap bersama daging kambing qurban sudah menjadi tradisi yang sengaja dijaga. "Kami ingin para santri tidak hanya tahu bahwa qurban itu hukumnya sunnah muakkad. Kami ingin mereka merasakannya, mulai dari menyaksikan penyembelihan, ikut memotong, ikut memasak, sampai makan bersama. Itu semua bagian dari pendidikan," tuturnya.
Seluruh rangkaian kegiatan Idul Adha 1446 H di Pondok Pesantren Nurul Huda Porong ditutup pada waktu siang menjelang sore hari dengan pembersihan lokasi secara bergotong royong. Tiga ekor kambing menjadi cerita-cerita tentang kebersamaan dan tawa santri menjadi pelengkap di hari yang penuh berkah.
✦ ✦ ✦
